Thursday, October 25, 2012

Hikmah Secangkir Coklat Panas

Sekolompok alumni, yang sudah mapan dalam karirnya, sedang berbincang-bincang pada saat reuni dan memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor universitas mereka yang sekarang sudah pensiun. Pada waktu mereka berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stress pada kehidupan dan pekerjaan mereka.

Professor itu menyajikan coklat panas pada tamu-tamunya, ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang besar dan beberapa macam cangkir - porselen, gelas, kristal, dan beberapa cangkir yang biasa-biasa saja, ada beberapa yang mahal, ada beberapa yang cantik. Dan mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut.

Ketika mereka semua memegang secangkir coklat panas di tangan mereka, professor itu berkata:

"Lihatlah semua cangkir yang bagus, mahal semuanya telah diambil, yang tertinggal hanyalah yang biasa dan yang murah.”

Adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik bagi kalian semua, itu adalah sumber dari masalah dan stress kalian. Cangkir yang kalian minum tidak menambahkan kualitas dari coklat panas tersebut.

Pada kebanyakan kasus itu hanya menambah mahal dan bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya, tetapi secara tidak sadar kalian menginginkan cangkir yang terbaik dan kemudian kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir kalian masing-masing.

Kemudian dia berhenti dan berkata, "Sekarang pikirkan ini:

Kehidupan adalah coklat panas; pekerjaan, uang, dan kedudukan di masyarakat adalah cangkirnya.Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki.

Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita hanya pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Allah Swt sediakan bagi kita. Allah membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya.

Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki. Hiduplah dengan sederhana. Mengasihilah dengan murah hati. Memperhatikanlah sesama dengan sungguh-sungguh. Berbicaralah dengan ramah.

Dan nikmatilah coklat panas kalian!

Friday, October 19, 2012

Kurban Dan Tujuan Disyari'atkannya

sudah menjadi hal yang diketahui bersama dan sunnatullah bahwa kesejahteraan setiap hamba Allah berbeda-beda. Dan Islam menjadikan penomena itu menjadi indah dan mampu berputar dalam landasan asas adil dan tidak ada yang saling terdzalimi.
Yakni dengan dilengkapi dengan diwahyukannya sya’riat kepada seluruh hamba ciptaan-Nya, seperti shalat, Zakat, puasa, hukum perdana pidata islam, mu’amalah (hubungan sosial), dll. tiada lain untuk menjamin hak dasar umat manusia, Syeikh Abu Zahrah dalam kitabnya Ushul Fiqih mengungkapkan bahwa ada 5 hal tujuan dari syariat Islam :
1.       hifdzud diin (menjaga agama),
2.       hifdzul ‘aql (menjaga akal),
3.       hifdzul maal (menjaga harta),
4.       hifdzun nasl (menjaga keturunan),
5.       hifdzun nafs (menjaga jiwa).
Oleh karena itu syariat islam bersifat rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta) sehingga bukan hanya umat Islam saja yang akan merasakan rahmat itu tapi sekalian alam semesta ini juga akan merasakannya.
Sungguh indah Islam agama kita,
Begitupun dengan ibadah qurban kita, memiliki nilai maqasyidussyariah (tujuan syariat) yakni menjaga agama, jiwa, dan harta.  Menjaga agama dan diri penerima manfaat qurban sangat terasa bila diterima oleh yang membutuhkan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw bahwa kefakiran dekat dengan kekafiran, dan betapa banyak kelaparan dan kekurangan menjadi tidak terjaminnya jiwa sehingga banyak jiwa meninggal karena kelafaran dan pendidikan pun terganggu karena kebutuhan sehari2 pun belum tejamin. Adapun menjaga harta adalah untuk pequrban yakni membersihkan dan sebagai investasi akhirat. Karena harta kita hakikatnya bukan apa yang kita makan sehingga habis dan pakai sehingga rusak melainkan apa yang kita sedekah dan itulah yang akan dibawa dan pemberat timbangan diakhirat.
Kadang disebagian daerah pembagian hewan qurban kurang maksimal sehingga berputar dikalangan yang cukup dalam penghidupan. Padahal masih banyak saudara kita dipelosok nusantara ini yang jauh membutuhkan, kondisi saudara kita jauh dari kota-kota besar di Indonesia sehingga perlu sokongan bantuan yang merata.

Thursday, January 19, 2012

19 Tanda Gagal Ramadhan | Anak Muslim


Dapat dari sebelah, lumayan buat renungan:


Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar.
Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini kiat-Kiat
menghindarinya gagalnya Ramadhan

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya'ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat
tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya'ban, sebagaimana telah
disunnahkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari
dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu 'anha berkata,

"Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan
Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di
bulan Sya'ban."

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan
shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui
kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih." (Maryam:
59)

Menurut Sa'id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat
(meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada
waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar
menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang
waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang
yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena
nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri
kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang
yang shalih.

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan
perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan
cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami."
(Al-Anbiya:90)

"Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah,
sampai Aku mencintainya." (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya.
Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus
pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan
(Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat
manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala, akan menguatkan sifat utama
kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur'an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur'an, bulan yang di dalamnya diturunkan
Al-Qur'an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang
maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur'an.

"Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur'an." (HR Baihaqi)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin
kemuliaan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak
berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di
bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: "Orang kuat bukanlah
orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang
yang bisa menguasai diri ketika marah."

Dalam hadits lain beliau bersabda: "Puasa itu perisai diri, apabila salah
seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan
membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka
katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa." (HR. Bukhari dan Muslim
dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah
tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada
hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR Bukhari
dari Abu Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih
lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata:
"Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan
tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang
sia-sia." (Al Muhalla VI: 178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap
berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara
masak: "Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu,
disaring, baru diucapkan."

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa
menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan
menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di
bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa
dengan-Nya." Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih
sayang dan tali cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan,
diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau
tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan
persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Qur'an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang
menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

"Allah bertanya: ' Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?'

Mereka menjawab: 'Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka
tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.'

Allah berfirman: 'Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau
kamu sesungguhnya mengetahui. "Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan
kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang
sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang
mempunyai 'Arsy yang mulia." (Al-Mu'minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan
melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu
selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan
keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani
hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:

"Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah
memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga,
dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada
suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan
kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya." (HR
Ahmad, Nasa'i, Baihaqi dari Abu Hurairah)

Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya
tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa
yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat
mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan 'amar ma'ruf nahiy munkar dilakukannya,
karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana
dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan
selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah.
Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan
lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia
maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati
amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama'ah.

Frekuensi shalat berjama'ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan.
Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap
kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai
hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama'ah, yang saling
menguatkan.

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam
saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang
tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4) Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk
hidup berjama'ah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan
merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa
seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan,
maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk
dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.

Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir
berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan
penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah
gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para
alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela
dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan
baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan
kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan
ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam
Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah
di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup
dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah.
Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda
perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya
mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah,
karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang
pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya
kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.

"Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan
bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." (Al-Hasyr: 18)

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah
Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat
genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia
ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan
kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa
seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti "hari kembali ke fitrah". Namun
kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka
dari "penjara" Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan
meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali,
syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri
seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan
peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada
pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya